"Bekti Kar Dhaton mring ibu bumi bapa angkasa"
"Hyang Tunggal kang manunggal, sun pijer nastiti lumakuning jagat, mugia dika jaya pinaringan shanti kang garima nishwari".
Sebuah mantram yang diucapkan gadis darah biru itu ketika mengawali menapakkan kaki di tanah baru. Gadis dengan jutaan keingintahuan ini selalu berselisih dengan kebosanan,
"Plakkk...plakk...plakkk.." tapak kaki kuda yang berlari menjauh dari Kedathon.
Kini ia telah berusia hampir 7 abad, diam, beku, namun menyejukkan, sejagat raya memanggilnya Nyai,
Nimas Ayu adalah panggilan kesayangan dari paman. Berbukti benar, ia memiliki beberapa ciri khas: kecantikan tiada tanding; welas asih yang mampu melumpuhkan getaran kejahatan seluruh dunia dalam sekejap; inilah kisah hitam yang tak lagi pekat, memudar dan bening.
Deraian daun kering gugur, beberapa diantaranya terbang diterpa angin sebelum akan jatuh, berselang menit, detik, mikrodetik sekalipun, ia selalu menimbang tentang apa yang diajarkan paman dengan kenyataan,
Ia kembali membuka sedikit lipatan lalu meraih butir-butir ingatan dari beberapa ajaran paman dan mencernanya,
Barat atau Timur hanyalah tentang arah, begitu pula hitam atau putih hanyalah tentang warna, bahkan lapar atau kenyang hanyalah label persepsi semata. Mencari kebenaran bukan tentang siapa yang salah? Namun apa yang salah?
"Terlatih berjiwa besar tak akan mudah mengerdilkan yang lain", seru paman.
Nyai terkejut, ada suara paman didekatnya.
Nyai mencari sumber dari lirih suara itu, menyusuri beberapa ruas pepohonan dalam hutan namun tak ada siapapun di sana,
Nyai kembali membuka beberapa lipatan lain,
Paman pernah bicara "merasa baik atas orang lain hanya akan membuat kita menutup rapat pemikiran kita, kaku dan membatu. Begitu juga ketika kita merasa tinggi dari orang lain hanya akan membuat kita kerdil atas ucapan-ucapan kita yang tak berbukti."
"Merasa berkuasa atas orang lain hanya akan memperlihatkan layer kita atas ketidakmampuan kita menguasai diri kita sendiri." Lalu apa?
Nyai larut dalam ingatan obrolannya dengan paman kala itu,
Mendewakan "Kepentingan" yang tiada akhir? Sampai kapan? Sampai bulan tak akan lagi purnama? Atau Sampai nagagini menunjukkan eksistensinya dengan melintas di atap negeri ini?
"Sudah nak, sudah. Bereskan yang berserakan, kita pulang"
Bisik paman ketika mendekap Nyai.
Lelah tanpa tumpuan, cakrawala memucat, samudra pun mengering. Jagat raya memikirkan ketika bernapas tanpa Nyai, semua saling menguatkan. Bukan hanya dekap paman, alam semesta turut mendekapnya.
Senyum yang candu, mengupas dusta tanpa tanya.
"Pewaris mutlak tak akan kalah telak, nak." Celetuk paman yang lagi lagi sedang menguatkannya.
"Kasta hanyalah fana, dekapan ini yang abadi", imbuhnya.
![]() |
| Tanah Majapahit |

Komentar
Posting Komentar