Pohon besar belakang rumah dan bunga keabadian yang kau selipkan diantara telinga kananku, lelaki pemberani. Perbincangan ringkas purnama kala itu kan tersemat sepanjang masa, lelaki yang baik nan bersahaja. Aku tak tau banyak tentangnya, namun aku akan tetap menulisnya di lain kertas.
Ini berbeda (beberapa Minggu kemudian)
Ketika bisik tangismu tak lagi terdengar, jeritan kesakitan itu kembali datang sesekali menyambangiku, meski tak sepatahpun kau ucap, tombak runcing itu terlepas dan menancap tepat di dadaku.
"Kling. . ."
Kalung pemberianmu terjatuh, dengan sisa nyawaku kembali kuraih agar tetap dalam dekapku, aku tak berhasil, mereka membawaku pergi jauh, benar benar jauh. Aku tau kau mencariku, membuntutiku disepanjang hidupku, masih belum selesai, tak akan pernah selesai jika kau tak mau menyelesaikannya. Aku tak menahu apa maksudmu? Sulitkah bagimu tuk menuturkannya baik-baik?
Komentar
Posting Komentar