Langsung ke konten utama

Tarum

Kedai bunga tropis di sudut kota itu kini mulai membereskan mejanya yang terlihat berserakan, gadis berambut sebahu dengan pakaian kasualnya telah melintas di depanku sebelum aku selesai menulis kalimat ini. Sayang, aku tak sempat menyapanya,  ia terlihat bergegas dengan mimik menghindari sapaan keramaian. 

"Aku akan menunggunya esok hari di tempat dan pergeseran matahari yang sama", gumamku.

Lincah, gemulai jemari: galeriseni


Esok hari tepat di bawah matahari yang semakin terik (seperti perencanaan kemarin), tak terlihat dari kejauhan satupun tanda-tanda keberadaan gadis itu akan melintas, sinisme polusi udara kota dengan riang lalu lalang menggodaku agar menghirupnya,

"ladalahh ning ndi arek iki ko nda liwat-liwat" 

logat Mojokertoan kembali terlontar, namun ini bukan sebuah umpatan, logat kami lebih kasar daripada Jawa Timur bagian barat. Terasa waktu berlari begitu cepat, terlihat dari tempatku dari dua jam yang lalu duduk seseorang dengan kemeja yang ku kenali akan naik bus yang telah membukakan pintu untuknya, aku bergegas mendekat, lagi-lagi tak sempat berteriak untuknya, bus itu melaju meninggalkan tempat semula. Entah kemana perginya, mimik yang sama terlihat dipertemuan terakhir kita.

Bukan titik yang membuat tinta, namun tinta yang membuat titik, seperti biasa, aku tak akan seattrac ini ketika tak ada "sesuatu" di sana. Harapan, yap! Harapan memiliki teman bicara, Tuhan punya cara-cara unik untuk memberiku teman. Sedikit termenung, 

"hmm sepertinya ia anak Universitas lain di kota ini, ia kan biasa memakai sepatu kasual yang merknya ku kenali, hmm sepatu penguras tabungaku, gadis setengah lelaki".

"Brukk..." suara yang tak asing (ketika buku buku terjatuh dari tangan pembawanya) aku langsung menghampirinya, memungut satu persatu buku, tak sengaja, "deg!" Terpaku sejenak "loh iki kan mbak wingi iko. . ." Lontarku membuat gadis itu kebingungan, (maksudnya gadis kemarin yang sempat ku tunggu-tunggu di taman kota beberapa pekan yang lalu). 

 

Pergeseran matahari mulai menunjukkan pukul 4:00 sore, ia berpamitan karena akan mengikuti kelas 15 menit yang akan datang, ia menyodorkan telepon genggamnya untuk minta nomor whatsappku, kami bertukar nomor lalu ia pergi. 

Namanya Tarum, mahasiswi di salah satu universitas ternama di kota ini, "baahh. . Aku excited mendengar cerita-ceritanya" ia anak Fisipol yang sudah menempuh selama 3 tahun studi, kemarin ia baru selesai magang di DPR RI  selama 2 bulan, bukan tipikal gadis yang meledak-ledak menurutku, mungkin ia ingin cerita banyak, 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Babad Jagat

" Bekti Kar Dhaton mring ibu bumi bapa angkasa "  "Hyang Tunggal kang manunggal, sun pijer nastiti lumakuning jagat, mugia dika jaya pinaringan shanti kang garima nishwari".  Sebuah mantram yang diucapkan gadis darah biru itu ketika mengawali menapakkan kaki di tanah baru. Gadis dengan jutaan keingintahuan ini selalu berselisih dengan kebosanan,  "Plakkk...plakk...plakkk.." tapak kaki kuda yang berlari menjauh dari Kedathon.  Kini ia telah berusia hampir 7 abad, diam, beku, namun menyejukkan, sejagat raya memanggilnya Nyai,  Nimas Ayu adalah panggilan kesayangan dari paman. Berbukti benar, ia memiliki beberapa ciri khas: kecantikan tiada tanding; welas asih yang mampu melumpuhkan getaran kejahatan seluruh dunia dalam sekejap; inilah kisah hitam yang tak lagi pekat, memudar dan bening.    Deraian daun kering gugur, beberapa diantaranya terbang diterpa angin sebelum akan jatuh, berselang menit, detik, mikrodetik sekalipun, i a selalu menimbang tentang a...

Sekar Jati

Sumurat sandhya adiptya: meri tininggal mangsa angsruping asih dharma. Dhuh sasmita, Sekar Jati Keseapaadaan telah mengantarkan pada jalan pulang dengan semestinya, tak ada yang kembali diberatkan, tak ada lagi sakit yang tak memiliki obat, dunia telah menilai kita, mencatat betul laku kita, bunga (itu) telah kembali padanya, Sekar Kedhaton (kita). Paman: "pergilah sejauh dambamu, namun jangan lupa hitung kemampuanmu berangkat sampai kembali pulang" Jagat ayu pramesti:)