Langsung ke konten utama

Merdeka yang Terpenjara?

Tentang "karakter" yang tak bisa kita generalkan, hanya ada buah melon akan membuat bumi terlihat sangat membosankan, tak akan jadi es campur ketika hanya ada satu buah, apa campurannya? Tak ada sirup, tak ada potongan semangka, tak ada susu kenal manis, ahh membosankan.

Merasa banyak berupaya akan membuat kita pamrih, inilah keburukan manusia dengan keunikan pola pikirnya. Pembelaan demi pembelaan akan membuat kita tenggelam pada candu "kepentingan". Plus-minus sudah biasa, yang tak biasa ketika kita berteriak "Merdeka!" Namun diri kita "di dalam" belum merdeka. Perlu kita ingat, mencari kebenaran bukan tentang siapa yang salah? Tapi apa yang salah?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Babad Jagat

" Bekti Kar Dhaton mring ibu bumi bapa angkasa "  "Hyang Tunggal kang manunggal, sun pijer nastiti lumakuning jagat, mugia dika jaya pinaringan shanti kang garima nishwari".  Sebuah mantram yang diucapkan gadis darah biru itu ketika mengawali menapakkan kaki di tanah baru. Gadis dengan jutaan keingintahuan ini selalu berselisih dengan kebosanan,  "Plakkk...plakk...plakkk.." tapak kaki kuda yang berlari menjauh dari Kedathon.  Kini ia telah berusia hampir 7 abad, diam, beku, namun menyejukkan, sejagat raya memanggilnya Nyai,  Nimas Ayu adalah panggilan kesayangan dari paman. Berbukti benar, ia memiliki beberapa ciri khas: kecantikan tiada tanding; welas asih yang mampu melumpuhkan getaran kejahatan seluruh dunia dalam sekejap; inilah kisah hitam yang tak lagi pekat, memudar dan bening.    Deraian daun kering gugur, beberapa diantaranya terbang diterpa angin sebelum akan jatuh, berselang menit, detik, mikrodetik sekalipun, i a selalu menimbang tentang a...

Sekar Jati

Sumurat sandhya adiptya: meri tininggal mangsa angsruping asih dharma. Dhuh sasmita, Sekar Jati Keseapaadaan telah mengantarkan pada jalan pulang dengan semestinya, tak ada yang kembali diberatkan, tak ada lagi sakit yang tak memiliki obat, dunia telah menilai kita, mencatat betul laku kita, bunga (itu) telah kembali padanya, Sekar Kedhaton (kita). Paman: "pergilah sejauh dambamu, namun jangan lupa hitung kemampuanmu berangkat sampai kembali pulang" Jagat ayu pramesti:)