Langsung ke konten utama

Senyum Tersisa

 Desember ialah bulan terpilih untuk kembali mendatangimu, hanya saja tulisan ini kutuliskan tepat di bulan setelahnya, yaitu Januari. Seremonial sambutan awal tahun, serba serbi kedisikan bukan menjadi persoalan. Gelap terbitlah terang benar adanya, ada siang ada malam, siklus yang teratur. Kali ini mulut belum betul-betul tertutup rapat dengan semestinya, apa yang menjadi perbincangan kemarin kembali terjadi. Begitu mudah kita meminta ampunan atas dosa yang terus kita ulang. 
 Hanya tentang atap "ini" dan seteguk obat yang menyembuhkan, menghela napas sejenak lalu melanjutkan perjalanan. Setidaknya Candradimuka telah memberi pengertian kecuali apa yang telah diperbuat dan balasannya. 

"Candradimuka bukan tempat untuk bermain dadu!"

Teriakan terakhir perihal "itu"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Babad Jagat

" Bekti Kar Dhaton mring ibu bumi bapa angkasa "  "Hyang Tunggal kang manunggal, sun pijer nastiti lumakuning jagat, mugia dika jaya pinaringan shanti kang garima nishwari".  Sebuah mantram yang diucapkan gadis darah biru itu ketika mengawali menapakkan kaki di tanah baru. Gadis dengan jutaan keingintahuan ini selalu berselisih dengan kebosanan,  "Plakkk...plakk...plakkk.." tapak kaki kuda yang berlari menjauh dari Kedathon.  Kini ia telah berusia hampir 7 abad, diam, beku, namun menyejukkan, sejagat raya memanggilnya Nyai,  Nimas Ayu adalah panggilan kesayangan dari paman. Berbukti benar, ia memiliki beberapa ciri khas: kecantikan tiada tanding; welas asih yang mampu melumpuhkan getaran kejahatan seluruh dunia dalam sekejap; inilah kisah hitam yang tak lagi pekat, memudar dan bening.    Deraian daun kering gugur, beberapa diantaranya terbang diterpa angin sebelum akan jatuh, berselang menit, detik, mikrodetik sekalipun, i a selalu menimbang tentang a...

Sekar Jati

Sumurat sandhya adiptya: meri tininggal mangsa angsruping asih dharma. Dhuh sasmita, Sekar Jati Keseapaadaan telah mengantarkan pada jalan pulang dengan semestinya, tak ada yang kembali diberatkan, tak ada lagi sakit yang tak memiliki obat, dunia telah menilai kita, mencatat betul laku kita, bunga (itu) telah kembali padanya, Sekar Kedhaton (kita). Paman: "pergilah sejauh dambamu, namun jangan lupa hitung kemampuanmu berangkat sampai kembali pulang" Jagat ayu pramesti:)