Langsung ke konten utama

Tr(us)t

 "Kriiingg. . .kriiingg. . .kriiing" alarm itu berbunyi di waktu yang sama setiap harinya tepat pukul 02:30 a.m. Ia bangun lalu bersiap, lantai itu tak asing dengan suara tapak kaki dengan nyawa belum genap mengisi raganya, ia meraih gayung lalu mengucurkan air surgawi pada area sebagaimana telah menjadi ketentuan, menggelar alas sarana menggantungkan nasib pada asih dan welas-Nya. Tak lebih yang diminta olehnya kecuali hembus napas tanpa sesak setiap harinya. 

Entah sekeras apa ia pada dirinya yang kemarin. Gadis dengan tinggi yang tak sampai 160 cm itu mencoba membersihkan kotoran pada pakaian yang ia kenakan, hari Jumat. Keesokan harinya ia harus lebih awal menjemput akhir pekan, list schedule telah berada pada genggamannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Babad Jagat

" Bekti Kar Dhaton mring ibu bumi bapa angkasa "  "Hyang Tunggal kang manunggal, sun pijer nastiti lumakuning jagat, mugia dika jaya pinaringan shanti kang garima nishwari".  Sebuah mantram yang diucapkan gadis darah biru itu ketika mengawali menapakkan kaki di tanah baru. Gadis dengan jutaan keingintahuan ini selalu berselisih dengan kebosanan,  "Plakkk...plakk...plakkk.." tapak kaki kuda yang berlari menjauh dari Kedathon.  Kini ia telah berusia hampir 7 abad, diam, beku, namun menyejukkan, sejagat raya memanggilnya Nyai,  Nimas Ayu adalah panggilan kesayangan dari paman. Berbukti benar, ia memiliki beberapa ciri khas: kecantikan tiada tanding; welas asih yang mampu melumpuhkan getaran kejahatan seluruh dunia dalam sekejap; inilah kisah hitam yang tak lagi pekat, memudar dan bening.    Deraian daun kering gugur, beberapa diantaranya terbang diterpa angin sebelum akan jatuh, berselang menit, detik, mikrodetik sekalipun, i a selalu menimbang tentang a...

Sekar Jati

Sumurat sandhya adiptya: meri tininggal mangsa angsruping asih dharma. Dhuh sasmita, Sekar Jati Keseapaadaan telah mengantarkan pada jalan pulang dengan semestinya, tak ada yang kembali diberatkan, tak ada lagi sakit yang tak memiliki obat, dunia telah menilai kita, mencatat betul laku kita, bunga (itu) telah kembali padanya, Sekar Kedhaton (kita). Paman: "pergilah sejauh dambamu, namun jangan lupa hitung kemampuanmu berangkat sampai kembali pulang" Jagat ayu pramesti:)